WHY PINK ?

Banyak yang nanya, mengapa desain daripada homepage daripada friendster saya kok pink (he..he.."daripada"..sorry Pak Harto, "kata sakti" Bapak saya pakai...)..

Sebenarnya itu tidak ada alasannya, to tell you the truth. Saya juga diajari memberi warna-warni desain friendster saya daripada anak saya yang bernama daripada Ditta. Dia tuch emang agak "techy" (diucapkan "teki"....ya mirip pengucapan teka-teki lah...). Maklum sekolahnya emang di NgInstitut Teknologi daripada mBandung, yang mestinya disingkat NTDM...hah..hah..hah...

Jadi singkatnya gini, saya nyoba beberapa parameter untuk desain homepage friendster saya. Ya namanya mencoba, untuk orang "semuda" saya, tentu tidak sampai 5 alternatief (yep, kali ini saya mengucapkan kata "alternatief" seperti Pak Habibie mengucapkannya, maksudnya plus dengan bibir agak digesek dan sedikit mencong...). Nah, dari alternatief-alternatief daripada 5 itu, akhirnya juri (iaitu saya sendiri) memutuskan yang dipakai adalah warna PINK !!! Plok...plok...plok...tepuk tangan dong ! (kali ini niruin Pak Susilo Sudarman, mantan Dubes RI di AS)... Kenapa pink ? Yach, itung-itung menjelang Valentine Day 2005 waktu saya mendesain ulang tampilan friendster saya pada waktu itu...

Tapi kelihatannya banyak first degree friends daripada friendster saya yang 90%-nya ex mahasiswa saya itu bertanya-tanya kenapa sih pink pak ? Mungkin mereka penginnya saya pakai hitam kali ya (emangnya film horror !) atau merah (emangnya gua lagi marah ?) ataupun ungu (emangnya saya lagi cemburu ?).

Akhirnya saya temukan jawabannya. Seperti anda semua ketahui, anak saya kan keduanya cewek. Dan cewek itu by default suka pink. Banyak lho petinggi negeri yang kedua anaknya cewek, seingat saya mantan Wapres Umar Wirahadikusumah, dan yang lainnya. Tapi yang paling saya ingat adalah Brad Friedl..

Siapa Brad Friedl itu ? Apakah temennya Brad Pitt ?

Brad Friedl pada tahun 1987-1989 melatih tim bola basket The University of Michigan at Ann Arbor pada kompetisi NCAA (en-si-dabel-e) yaitu singkatan dari National Collegiate Athletic Association.  Yah, semacam kompetisi olahraga antar universitas berdasarkan kelompok atau konferensinya lah...

Universitas tempat saya mengambil Master of Science in Computer Science dulu, yaitu Indiana University at Bloomington, adalah satu "conference" dengan Purdue, Ohio State, Iowa, Illinois, Nortwestern, Michigan, Michigan State, Wisconsin dan Minnesota (pada tahun 1992 kalau tidak salah, "Big Ten Conference" ditambah satu anggotanya yaitu Penn State)..

Nah, dalam percaturan bola basket antar universitas itu, Michigan adalah salah satu team yang sulit ditaklukkan. Hampir semua anggota skuadnya adalah orang hitam, kekar, tinggi, dan cara mainnya sangat fisikal (alias tidak takut tubrukan dengan orang). Jadi, di conference kami yang waktu itu beranggotakan 10 universitas, Michigan selalu menduduki ranking pertama. Jarang ada yang mengalahkannya. Kalaupun ada, salah satunya adalah universitas saya, Indiana, yang anggota skuadnya separuh putih separuh hitam, dan badannya kecil-kecil namun lincah dan sangat atletis (kelenturannya menyamai bola bekel lah..).

Kembali ke Michigan, kembali ke pelatih basketball-nya yaitu Brad Friedl. Seorang wartawan koran mengamati bahwa jika Brad Friedl memakai baju warna pink waktu Michigan sedang bertanding, maka Michigan selalu menang. Wow, this is the real magic of pink color ! Saat ditanya wartawan tersebut daripada Brad Friedl mendapatkan baju pink, dia menjawab yang membelikannya adalah anak-anak perempuannya...

Saya yang waktu itu jauh dari keluarga karena isteri dan kedua anak perempuan saya tinggal di Jakarta lalu terbayang kepada kedua anak perempuan saya. Andaikan, anak saya membelikan saya baju pink, wah...berkat "the magic of pink color" mungkin saya dapat melakukan hal-hal yang ruaarrrr biasa seperti yang dilakukan daripada Brad Friedl.

Tapi kan, waktu itu anak saya baru berumur 6 tahun dan 4 tahun.

Jadi ?

Sejarah Isnet II

Sumber : http://www.dhani.singcat.com/refleksi/2003_06_01_archive.php

Sunday, June 08, 2003

Kegiatan Isnet sebenarnya tidaklah melulu berkisar pada diskusi di milis. Walaupun berstatus sebagai sebuah komunitas cyber, Isnet sebenarnya juga banyak mewadahi kegiatan yang bersifat nyata melalui komite-komite kerja yang dibentuk. Ambil contoh Komite Beasiswa yang merupakan organisasi berbadan hukum resmi (terdaftar di negara bagian

Delaware

,

USA

) yang menyalurkan beasiswa kepada sejumlah anak-anak dari keluarga kurang mampu yang terancam putus sekolah. Demikian pula Komite Zakat, Infaq, dan Shadaqah (KZIS) yang menyediakan layanan penyaluran ZIS dari masyarakat Indonesia di manca negara ke pihak-pihak yang berhak menerimanya di Indonesia. Juga Komite Buku Isnet (KBI) yang berkomitmen untuk menyediakan buku-buku yang didapat dari sumbangan para donatur untuk lembaga pendidikan Islam yang membutuhkan. Tidak kurang pula kegiatan yang bersifat offline, misalnya pengoperasian sebuah klinik layanan kesehatan yang berlokasi di Bantul,

Yogyakarta

.

Sementara itu, layanan online Isnet lebih banyak bertumpu pada dua komite kerja, masing-masing Komite Media dan Komite Tarbiyah dan Pengembangan Diskusi Isnet (KTPDI). Komite Media bergerak untuk mendokumentasikan referensi keislaman melalui penyediaan kepustakaan elektronik di internet, sedangkan penanganan milis-milis dan layanan konsultasi keislaman, termasuk pengarsipannya, menjadi tanggung jawab KTPDI. Untuk dukungan teknis, termasuk penanganan server dan milis, komite-komite kerja ini dibantu oleh Komite Administrasi dan Teknis Isnet (KATI)

Banyak hal yang bisa dipelajari dari pengoperasian cyber community semacam Isnet. Yang nomor satu, tentulah soal biaya. Operasional Isnet memerlukan dana yang sangat besar, terutama untuk hardware serta operasional server. Penggunaan sistem berbasis Linux dapat menghemat ongkos untuk software. Begitu pula untuk SDM yang semuanya terdiri atas para sukarelawan. Koneksi internet hingga saat ini masih menggunakan jaringan milik berbagai universitas di Amerika Serikat yang walaupun gratis tapi harus siap dipindah sewaktu-waktu.

Tidak sedikit kendala yang dihadapi dalam menjalankan layanan-layanan Isnet. Diskusi di milis-milis umum di Isnet terkenal ramai. Sering terjadi flame war yang dibumbui aneka ungkapan yang terdengar 'pedas'. Moderator perlu bekerja ekstra keras untuk merespon setiap situasi yang terjadi. Menjadi moderator milis-milis Isnet merupakan pekerjaan yang selain menyita waktu juga menguras tenaga dan pikiran. Tidak heran apabila hanya sedikit orang yang sanggup berlama-lama duduk di 'kursi panas' sebagai moderator di milis Isnet. pengalaman kurang menyenangkan juga pernah dialami volunteer dari KZIS. Pasca peristiwa Bom Bali (Oktober 2002), komite ini dituding sebagai penyalur dana untuk teroris (!). Akibatnya, beberapa aktifisnya di manca negara (Prancis dan Jerman) sempat 'diciduk' oleh polisi setempat untuk menjalani interogasi berkaitan dengan aktifitas mereka di komite ini.

Materi diskusi di milis maupun di website yang sering kurang berkenan bagi sebagian orang juga membuat sistem Isnet rawan terhadap serangan cracker. Tidak terhitung banyaknya 'serangan' yang pernah menimpa server Isnet. Boleh dibilang kalau 'sekedar' portscanning, ibaratnya sudah makanan sehari-hari. Alhamdulillah, hingga saat ini, server Isnet masih belum pernah 'kebobolan'. Untuk yang ini, kita perlu angkat topi buat para pengawal server yang berpangkalan di KATI.

- Diposting oleh Dhani @ 09:27

Salah satu aplikasi email yang sering dimanfaatkan adalah milis (mailing list). Milis sendiri sebenarnya bukan hal yang betul-betul baru. Di era jaringan pra-internet, forum diskusi yang mirip dengan milis yang kita kenal dewasa ini juga sudah dikenal, baik melalui jaringan komputer lokal di perguruan tinggi maupun via BBS (Bulletin Board System). Seperti yang dikisahkan di situs web http://rms46.vlsm.org/1/24.html, email dan jaringan diskusi online telah dimanfaatkan jauh sebelum internet mewabah.

Di akhir dasawarsa 80-an, banyak perguruan tinggi di Amerika Serikat yang telah terhubung dalam jaringan online. Kondisi ini memungkinkan para mahasiswa di negara tersebut untuk saling berkirim email dan kemudian membentuk kelompok-kelompok diskusi semacam milis. Kemudahan ini juga dimanfaatkan oleh para mahasiswa

Indonesia

yang kala itu juga sedang menuntut ilmu di negara tersebut. Tidak jelas, siapa yang pertama kali membangun milis berbasis Indonesia, namun diantara sekian milis berbasis Indonesia di era itu, ada satu diantaranya yang cukup populer yaitu milis bernama "Janus" yang beralamat di indonesia[at]janus.berkley.edu.

Diskusi di milis ini tidak dibatasi pada topik tertentu, dan karenanya setiap pesertanya bisa mendiskusikan apa saja secara bebas. Beberapa mahasiswa

Indonesia

memanfaatkan milis ini untuk mengirimkan artikel dan diskusi keagamaan. Rupanya banyak peserta milis yang berkeberatan dengan topik yang satu ini sehingga kemudian kelompok diskusi keagamaan membentuk milisnya sendiri. Dari sinilah awal mula terbentuknya milis Isnet (Islam) dan ParokiNet (Katolik). Kini walaupun milis Janus sendiri sudah tidak berjalan lagi, tetapi Isnet dan ParokiNet masih tetap eksis dan mejadi salah satu milis tertua di

Indonesia

yang masih aktif. Catatan kali ini akan menyorot secara khusus seputar Isnet dan kegiatannya, yang selama ini sering sepintas disinggung dalam catatan-catatan sebelumnya.

Milis Isnet (The Islamic Network) sendiri berawal pada bulan Oktober 1989 melalui server milik Indiana University di Bloomington, dengan nama islamic[at]iuvax.cs.indiana.edu yang dimaintain oleh Tri Djoko Wayhono. Tidak lama kemudian, mailing list dipindah ke

University

of

Wisconsin

,

Madison

, dengan nama is-lam[at]vms.macc.wisc.edu dengan maintainer Bachtiar Muin. Sejak 1992, Isnet telah beroperasi dengan servernya sendiri, diawali dengan servernya yang pertama, sebuah Sun SPARClassic II yang dibeli dari hasil fundraising. Server ini ditempatkan di Lab. Electronic Engineering, University of Manitoba, Winnipeg, Canada di bawah pengawasan Budi Rahardjo, masih dengan domain isnet.ee.umanitoba.ca. Domain isnet.org sendiri baru mulai didaftarkan untuk server ini pada bulan Mei 1994.

Dalam perjalanannya, Isnet pernah mengoperasikan server lain, sebuah Sun Sparc yang dibeli sekitar bulan Oktober 1995 dengan dana sumbangan seorang donatur. Server ini semula ditempatkan di Lowell lalu ke

Newton

, dekat

Boston

, Massachussets, dan dimanfaatkan untuk chatroom dan layanan webhosting, beroperasi dengan domain iscom.com. ISCOM sendiri adalah singkatan dari Isnet Communication and Computing Services. Sever ini sempat digunakan sebagai backup untuk milis-milis Isnet saat server utama (SparClassic) mengalami crash pada Juni 1997. Sayangnya, biaya operasional yang tinggi akhirnya menghentikan penggunaannya sekitar tahun 1998.

Sementara itu, karena server berbasis Sun dinilai terlalu complicated dan mahal, maka diputuskan untuk menggunakan server berbasis Intel Pentium Pro untuk menggantikan SparClassic yang tidak berhasil diperbaiki. Server baru ini beroperasi sejak Oktober 1997 dan ditempatkan di

Lab.

Geofisika

Purdue University, di bawah pengawasan Bogie Soedjatmiko. Untuk sistem operasinya, dipilihlah Debian Linux dengan pertimbangan utama pada penghematan biaya ketimbang memakai software komersial yang mahal. Kini Isnet beroperasi dengan sebuah server berbasis Pentium III dengan RAM setengah gigabyte yang ditempatkan di jaringan milik

University

of

Illinoiss

at Urbana Champaign (UIUC) dibawah pengawasan Ranti Yunus. Server ini beroperasi sejak November 2001 menggantikan server Pentium Pro yang dirasa sudah tidak lagi memadai.

- Diposting oleh Dhani @ 09:27

Sejarah Isnet I

Sumber : http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1992/06/07/0009.html

Resources: Online & Disk Media (r)

From: apakabar@igc.apc.org
Date: Sun Jun 07 1992 - 16:54:00 EDT


Forwarded by Eka Budianta for Heri Akhmadi. This is an article
written by Heri for Jawa Pos and published in late February.
Posted on isnet, it drew some corrections, which are appended.
-- John
__________________________

Mahasiswa

Indonesia

di AS :
BERPOLEMIK LEWAT KOMPUTER

    Komputer digunakan oleh hampir semua mahasiswa di Amerika. Bisa
untuk menghitung, mendisain, modeling, atau sekedar menulis. Salah satu
manfaat komputer yang lain adalah untuk bersurat-suratan secara
elektronik (e-mail). Teknik e-mail sebernarnya sederhana. Seorang
mahasiswa yang terdaftar di suatu unversitas umumnya memperoleh nomor
rekening untuk memakai komputer besar (main-frame) milik universitas.
Di komputer itu setiap pemakai diberi "kotak-pos" (elektronik) yang
siap untuk menerima "surat-surat" (elektronik) dari pemakai komputer
lain. Komputer-komputer universitas tersebut -- jumlahnya ratusan buah
dan tersebar diseluruh AS -- membentuk suatu jaringan nasional komputer
universitas. Melalui jaringan tersebut komputer-komputer universitas
secara berkala melakukan tukar menukar "surat-surat" itu. Dengan
demikian suatu "

surat

" yang ditulis di Universitas

Boston

, misalnya,
pada beberapa jam berikutnya sudah akan bisa dibaca di Universitas
Chicago.

    Selanjutnya melalui beberapa "pintu-gerbang", jaringan tersebut
dihubungkan dengan jaringan serupa di negera-negara lain -- misalnya
Inggris, Kanada, Belanda, Jepang atau

Australia

. Sehingga para
mahasiswa juga bisa bersurat-suratan antar negara atau antar benua.
Sayangnya, sekalipun telah lama direncanakan, sampai sekarang jaringan
komputer universitas di

Indonesia

-- diberi nama Uninet -- belum
berjalan efektif. Upaya membangun Uninet dimotori oleh Pusat Ilmu
Komputer UI. Secara terbatas mereka telah biasa pula menggunakan e-
mail untuk lingkungan intern maupun untuk berhubungan dengan beberapa
universitas di luar negeri. Nantinya kalau Uninet telah luas diper-
gunakan, mahasiswa di

Indonesia

juga akan dengan mudah mengirim "

surat

"
ke teman-temannya yang sedang kuliah di luar negeri.

    Diluar universitas jasa e-mail telah pula digunakan secara luas.

Ada

yang dikelola oleh perusahaan telepon, ada pula yang dimiliki oleh
badan-badan pemerintah dan swasta, serta juga oleh LSM. Baik pemakai
komputer di unibersitas maupun yang diluar universitas dapat berhu-
bungan satu dengan yang lain. Di Indonesia sejak dua tahun yang lalu
PERUMTEL juga telah mejual jasa e-mail. PERUMTEL memberi nama jasa e-
mail itu SIE, Sistem Informasi Elektronik. Dengan menggunakan jasa
SIE itu para pemilik komputer di

Indonesia

dapat pula berhubungan
dengan jaringan e-mail di luar negeri.

"Konperensi" E-Mail

    Berbeda dengan

surat

biasa, secara otomatis e-mail dapat ditujukan
sekaligus ke banyak alamat. Yang perlu dilakukan hanyalah membuat
daftar alamat. Dengan cara itu para pemakai komputer bisa membikin
semacam "konperensi" e-mail atau "jaringan" e-mail. Pertama-tama salah
satu "kotak-pos" dijadikan semacam "moderator". Misalnya "kotak-pos A"
milik seorang mahasiwa di Madison. Setiap orang yang ingin ikut
konperensi di daftar di "kotak-pos A" sebagai alamat yang akan dituju
secara otomatis. Seorang peserta konperensi cukup mengirim e-mail ke
"kotak-pos A", seterusnya "kotak-pos A" akan mengirim ulang e-mail
tersebut keseluruh peserta yang ada dalam daftar alamat. Dengan
demikian isi e-mail dari setiap peserta bisa dibaca oleh semua peserta
konperensi.

    Di Amerika konperensi e-mail

Indonesia

mula-mula dirintis oleh
sejumlah mahasiwa di Universitas

California

Berkeley

. Mereka menamakan
jaringan itu Janus. Pada waktu yang hampir bersamaan mahasiwa In-
donesia di Inggris juga membuat konperensi e-mail yang diberi nama UK-
Net. Pada masa jayanya, lebih seratus mahasiswa mengikuti Janus.
Tetapi kemudian menurun peminatnya dan kini berganti nama menjadi
Scientific Indonesia.

    Pada bulan Oktober tahun 1989, mengingat banyaknya peminat diskusi
mengenai Islam, maka dibuat konperensi e-mail baru yang diberi nama
ISNET, kependekan dari Islamic Network. Prakarsa awal diambil oleh
Trijoko Wahyono (mahasiswa Ilmu Komputer) dan Abdul Kadir (mahasiswa
Ilmu Perpusatakaan), keduanya ketika itu di Universitas Indiana di
Bloomington. "Ketika itu banyak mahasiswa non-Islam memprotes diskusi
tentang agama di Janus" kenang Abdul Kadir. "Untuk menghindari konflik
sekaligus menampung minat berdiskusi tentang Islam maka dibuatlah
Isnet". Menurut Abdul Kadir gagasan itu kemudian dimatangkan dengan
teman-teman dari

kota

lain ketika mereka sama-sama menghadiri pertemuan
PERMIAS,

di Athen

,

Ohio

. Isnet pertama kali dibuka dengan menggunakan
"kotak-pos" Trijoko di UI

Bloomington

. Ketika Trijoko lulus dan pulang
ke Indonesia, pangkalan Isnet diboyong ke Madison, Wisconsin, oleh
Bachtiar Mu'in dan tetap berjalan hingga sekarang ini.

    Diluar dugaan para pemrakarsanya, Isnet ternyata berkembang pesat.
Kalau pada semester pertama peminatnya cuma sekitar 60, kini jumlahnya
telah mencapai sekitar 600 orang. Tidak hanya itu, Isnet kini tidak
lagi ekslusif muslim, karena banyak pula mahasiswa non-muslim yang
mengikutinya. "Membengkaknya anggota menimbulkan banyak persoalan
teknis. E-mail itu tidak lagi bisa dilayani oleh satu kotak-pos" kata
Rhiza Sadjad, kandidat doktor teknik listrik di Universitas

Wisconsin

.
"Karena itu kini Isnet memiliki sejumlah kotak-pos relay diberbagai

kota

, misalnya

di Lafayette

,

Michigan

dan lain-lain termasuk yang di
Kanada, Inggris, Jepang dan

Australia

". Dengan demikian "kotak-pos
induk" di

Madison

hanya mengirim e-mail ke "kotak-pos relay" yang
jumlah terbatas.

Tidak Hanya Soal Agama

    Pokok bahasan di Isnet sangat luas. Berbagai masalah agama yang
aktual, seperti soal kawin antar agama dan bank Islam, menjadi bahan
diskusi yang tajam dan mendalam. Tetapi tidak hanya itu. Masalah
kemasyarakatan umum, semacam soal demokrasi dan pembangunan ekonomi,
juga jadi perhatian. Tidak jarang pembahasan berkembang menjadi
polemik panjang yang memakan berpuluh-puluh halaman e-mail. Maklum saja
yang berdebat itu memiliki latar belakang pendidikan sangat bervariasi,
sehingga adakalanya titik temu tidak tercapai.

    Bahan diskusi diperkaya karena Isnet secara rutin juga menerima
bahan dari Peace-Net, suatu jaringan e-mail yang dikelola oleh lembaga
non-profit. Bahan-bahan berupa kutipan berita dari berbagai kantor
berita maupun komentar semuanya tentang

Indonesia

. Konperensi In-
donesia yang dikelola oleh ahli

Indonesia

berkebangsaan Amerika
tersebut, sangat aktual dalam menyajikan berita

Indonesia

. Bila rajin
mengikuti, suatu kejadian penting di

Indonesia

akan dapat diketahui
pada hari yang sama.

    Isnet kini telah berkembang lebih jauh. Tidak lagi sebatas
konperensi e-mail, tetapi telah turun ke "daratan" dengan mengadakan
pertemuan, pengajian dan kegiatan lain. Isnet memiliki buletin yang
diberi nama Kalam Musafir disingkat Kalmus. Terbitan nomor mendatang
membahas soal tranfer teknologi. "Kalmus diedit bersama secara inter-
nasional oleh mahasiswa

Indonesia

di AS, Kanada, Inggris, Jepang dan

Australia

" ungkap Abdul Kadir. Tentunnya itu semua bisa dilakukan
karena ada fasilitas e-mail. Isnet juga mencoba untuk menghimpun dana
untuk beasiswa. Kini telah dua orang yang menikmati beasiswa Isnet.

    Isnet juga membantu berkembangnya pengajian-pengajian di AS. Sejak
tahun lalu, misalnya, bersamaam dengan Konperensi PERMIAS para aktivis
pengajian bermusyawarah untuk memajukan kegiatan-kegiatan syiar Islam
di AS.

Ada

gagasan untuk mendirikan FKPI (Forum Komunikasi Pengajian
Islam), tetapi secara spesifik belum ada rumusannya. Sejumlah aktivis
pengajian di beberapa kampus telah pula dibentuk IMSA (Indonesian
Moslem Students Association).

    ICMI juga telah masuk AS. Cabang pertama didirikan di Chicago,
diketuai A.Q. Azizy. Kebetulan Konperensi PERMIAS tahun ini akan
diadakan di Pittsburgh. Tidak jelas apakah forum itu juga akan
dimanfaatkan untuk konsolidasi ICMI. Yang jelas Dubes A.R. Ramli
memang cukup getol menganjurkan pembentukan ICMI di AS.

    Dengan membengkaknya kegiatan dan kemungkinan tumpang tindihnya
organisasi serta tanggungjawab, Isnet kini sedang sibuk membenahi
organisasi. "Tanggal 8 Februari yang lalu beberapa teman kumpul di

Chicago

untuk merumuskan organisasi dan aturan main yang lebih jelas"
kata Abdul Kadir. Mereka tidak menginginkan organisasi yang longgar,
tidak birokratis serta tidak dapat dimanfaatkan oleh seseorang untuk
kepentingan pribadi. Kita doakan.

Date: Tue, 19 May 92 18:26:51 EST
From: Abdul Kadir <
KADIRA%PRISM.decnet@copper.ucs.indiana.edu>
Reply-To:
is-lam@macc.wisc.edu
Sender:
prsasoko@mtus5.cts.mtu.edu
Subject: Re: Isnet: Guntingan koran JAWA POS (Surabaya)
To:
is-lam@macc.wisc.edu

>Assalamualaikum wr.wb.
>Saya kira, nama "Bakhtiar Muin" layak dan harus disebut sebagai
>salah seorang pendiri network ini. Kesimpulan ini saya buat
>dari hasil diskusi yang cukup intensive dengan Tri Djoko Wahyono
>di awal berdirinya isnet ini beberapa tahun yang silam.
>Ini hanya sedikit koreksi.
>Wassalam,
>--amril

**Kadir:
Saya setuju dengan koreksi Bang Amril itu.
Malahan justru saya dengar sendiri dari pembicaraan saya dg Bang Muin
ketika saya bermalam di rumah beliau pada tgl. 20 Agustus 1986, bahwa
Bang Muin kepengin kita bisa melakukan 'tele-conference' {waktu itu
istilah email belum populer}, terutama antara kelompok pengajian
antar kota di seluruh Amerika Daratan, dg menggunakan fasilitas
'tele-conference' via PC. Dan Bang Muin membawa ide itu ke Pertemuan

Permias di Lawrence

,

Kansas

pada Agustus 1987. Di konferensi itu
Bang Muin baru ketemu Bung Tri Djoko Wahyono. {Saya dan Bung Djoko
memberi presentasi 'Sistem Informasi di Indonesia' di Seminar Permias
1987 di Kansas itu}

Baru sepulang dari Konferensi Permias 1989 di Athens, Isnet berdiri.

Jadi, nama Bang Muin memang patut mendapat 'credit' atas prakasa ini.
Sepanjang saya tahu, setelah 3 tahun Bang Muin bicara di apartment
beliau

di Madison

,

Wisconsin

Agustus 1986 -- Isnet lahir Oktober 1989.

***

Hal lain yg dapat dipetik dari proses menulis dg cara wawancara,
adalah memeriksakan kembali hasil wawancara kepada yg diwawancarai
agar kebenaran hasil wawancara sesuai dg jawaban yg dimaksudkan.
Juga, hasil wawancara pun perlu di'recheck' pada tulisan
serupa yang mungkin sudah pernah dimuat/diterbitkan. Untuk para
penulis sejarah Isnet yang akan datang, harap membaca posting
'Sejarah Berdirinya Isnet' yg biasanya diposting Bang Muin setiap
awal Oktober (maulid/HUT Isnet).

Sebagai contoh kecil, semua hasil wawancara saya bersama Bung Al-Ghozie
Usman selalu saya kirim dahulu kepada beliau, sebelum diposting di
Isnet yang pembaca sangat terbatas. Tentu proses ini adalah proses
rutin yg dilakukan oleh seorang 'wartawan' menurut aturan main ke-
wartawanan yang berlaku umum. Dg demikian apa2 yg akan dimuat di
Isnet atas hasil wawancara saya dg Bung Ghozie itu, beliau sudah
tahu isinya.

Apalagi, kalau hasil wawancara Anda akan dimuat di hasil New York
Times, yang dibaca oleh masyarakat di seluruh muka bumi, misalnya.

Bagaimana pun kita sama-sama belajar, bagaimana cara menulis yang
lebih profesional.

Salam, ---kadir

MASTERPIECE OF THE DECEASED

As you might have noticed, there are more and more old movies shown on Indonesian TV lately. Mostly romantic or comedy movies, starred by Indonesian old divas and old heroes you might not have known. Commercially, it is a good move as old movies of course are cheaper than that of new movies. Not to mention much expensive Chinese, Taiwanese, Korean, Japanese, and Indian movies. Moreover, I heard that Hollywood movies are the most expensive of all…[yep, the reason is old Hollywood movies are all “made in Hollywood” compare to recent movies which sometimes “made out of Hollywood” alas “independent movies”…]

Personally, I like that move too. The reason is, I can watch once again the old divas and old heroes whom I admired a lot when I was young. Fifi Young, Suzanna, Christine Hakim, Nungky Kusumastuti, W.D. Mochtar, Soekarno M. Noer, Benjamin, The Warkop Quartet (DonoIndroKasino – and even Nanu), and so on. Watching their acting on TV lately, refresh my mind of “the good old days” when I was young, smart, wealthy, healthy, sexy [ooops…], highly paid, lowly workload, full of smile to everyone I met, etc…

Unlike you guys in the States which I consider lucky to have your old movies are still archieved somewhere by someone, from the black and white movies such as Charlie Chaplin ones to the black-and-white-turn-to-color movies such as Marilyn Monroe’s “Niagara” or Ingrid Bergman “Casablanca”, to the “recent old movies” such as Vietnam War movies from “Apocalypse Now”, “The Deer Hunter” and the “Rambo sequel”, we – Indonesian – are not as lucky as you are. We lost the copies of old movies from Indonesian independence in 1945 until the communist coup d’etat in 1965. Someone might have burned or destroyed it, of political reason. We only hear that Titin Sumarni was the most prettiest diva in late 1950s to early 1960s. The same thing happen with Bambang Hermanto who once won “the best actor prize” in Moscow Film Festival sometime in early 1960s when he was the main actor in the movie “Pejuang” [yes, it has to spell “Pedjuang” though, the old spelling which means “the warrior”]. Too bad, I’ve never seen Titin Sumarni movie at all although I saw her face in “Aktuil” magazine in mid 1970s when her son was raised to a star and his mother face was photographed in a small “inzet” picture. Yet I’ve been luckier with Bambang Hermanto, because he was starring a movie entitled “Jembatan Emas” (golden bridge) in mid 1970s and I admired his acting a lot in that movie.

Similar to movies, I consider myself lucky to live and work in Jakarta where an oldie radio station – Delta FM – is airing theirs news and oldie songs. Suddenly I hear again the voice of Blue-eyes Frank Sinatra, Nat King Cole (later, he “duet in heaven” with his daughter Natalie Cole), Andy Williams, Jim Reeves, Elvis Presley, Skeeter Davis, Julie Andrews, Ella Fritsgerald and so on. It is very interesting though, a middle age man like me, a product of mid 1950s, like songs as product of 1950s also, which I have not heard for a very long time due to the ban by Indonesian government to air such “decadent songs” during the “Malaysia Confrontation” in early 1960s.

Similar to movies and similar to songs, comedies of old era, recorded by some old stars who are  already deceased, are now still entertain a lot of people like me. During the Iedul Fitr time [the big Islamic week festival, literally means “the day of the rebirth”], usually I and my whole family make a journey by car to East Java, my hometown. A 15-hour journey seems very long for each occupant in such a small car, so usually we entertain ourselves by sing old songs or listen to old comedy cassettes [15-hr journey is like from Los Angeles in the west to St. Louis – Missouri in the east or from New York in the east to Kansas City – Missouri in the west, isn’t it ? Yep, it is a pretty long journey !].

In last year (2004) journey to East Java, we broght a lot of cassettes of Indonesian Idol, Glenn Fredy, Ari Lasso, Dewa, Padi, Koes Plus (oldies and remake by news artists such as /rif), Mus Mulyadi (old Javanese songs), and also a bunch of comedy cassettes of Basiyo – a once very famous Javanese comedian from Yogyakarta.

In watching or listening the masterpiece of the deceased, I often laugh, cry, being happy or sad. Shortly speaking, I am very grateful of the deceased artists since although they are now “in heaven” somewhere, they still entertain us the audience just like before when they are still alive.

As a moslem, I certainly belief that for someone who died, his/her charity was ended except three things : the loyal and true believer children, the charity to build mosques, and the charity to help the orphanages or schools.

But I believe, God the Almighty will make an exception. Hopefully He will still count the  hard work of the deceased artists considering that until today there are still a lot of people are being entertained by their masterpiece of work. Amen.

THE STORY OF FAMILY CATS (PART II)

As I told earlier, the female kitten daughter of Pussie – Bajita – will give birth a lot of beautiful cats, all of those were well fed in a nice house environment so to say that they weren’t “stray cats” anymore. Borneo – Bajita’s brother – was one of the most intelligent cat, he can do arithmetic “add” very easily as long as two numbers being added were “power of two” such as : 0,1,2,4,8, etc [Mmmm…I am – the cat trainer – a computer scientist, remember ?].

When I touched Borneo and ask him, “Borneo, what is two plus two ?”,  Borneo answered, “Meowwwfour…” [Of course, only I who heard the word “four” here, for other people with not enough training of this kind of cat weirdos, it was heard just like an usual “Meoooowww..”].

If Computer Science Department of Indiana University at Bloomington had a postgraduate program for cats, I believe Borneo will pass the “Ph.D-cat” easily in a very short of time. It was a pity they didn’t have it ! [Borneo died in 2002 at the age of 7 years, a comparison of 70 years for human]…

In one fine day, in one of my closet, Bajita gave birth of four beautiful kittens but all of them are male ! Rare occasions, isn’t it ? They were : Levi (black & white), Benito (black & white), Soarez (golden color), and Scuba (golden color). It was around 1995 I guess, because I remember the kittens were born where my house was being reconstructed, alas no roof at that time !

Levi was a very adorable male cat. When my daughter Dessa was studying by lying on the floor reading books, Levi sat and slept in her back. Benito did the same, this time in Ditta’s back. When he was scared, Benito will seek refugee in Asih and Sulis’ room – my sister-in-law room. Scuba was an athletic cat, his golden color and short tail and yet a rather mean face, reminded me of the tough boxer Mike Tyson. Soarez has golden color too, but not as athletic as that of Scuba, yet it was not as slim as Pee Wee though.

As you know, cat lives for as long as 7 years. One-year old cat is just like 10-year old boy, two-year old cat is just like 20 year old youth, and so on. When the age of a male cat is approaching 2 years, it seems to me that they are already ready for mating, as comparatively a human youth begins falling in love with somebody. And this period is the most dangerous period for the young male cat, either he die or succeed. The much stronger and older male cat can flex it muscle to the end, and sometime has a very bad bad effect for young male cat, die ! [This is just my hypothesis though, I am not a veterinary medicine expert, I am just a common cat lover]. Shortly speak, Scuba died of heavy injury in his neck, Benito and Soarez were expelled from the house for unknown reason, presumably they were both forced out of the house by a older muscled male cat during the mating season. Levi lived as long as 6 years, and he died peacefully after waiting for 2 months for my comeback from a Korean tour in 2001. All of those cats usually were being buried in my front yard, bellow a bushy star fruit tree.

Ooops…one thing I forgot. The female cat Bajita was a very generous cats. Why ? I tell you this story : in 1995 I found by accidents four kittens in very different situation for each of them. I found a female kitten Soil – a grey-fur cat - when she was yelling out loud when being dumped by her mother. I found Tootsie – an all-black cat – when he was dumped by somebody in my front ditch. I found Ramirez – a three-color cat – when he just entered my house and seeking to suck my toe – a sign of being left out by one kid. I found Dotti, as the name gets – a dotty-black-on-white cat – when he ate the Whiskas snack I gave in my front yard. All of these 4 kittens were about two-month old when they were found.

In one day, Bajita was giving milk to all of these 8 kittens (Levi, Benito, Soarez, Scuba, Soil, Dotty, Tootsie, and Ramirez). Believe it or not !!!!  Too bad, that I can’t show you the photo of this rare occassion, coz FRIENDSTER has not given us that capability in the weblogs yet [weblogs containing photos, to be exact].

The story continued. Bajita died of eating presumably poisoned food, meaning for catching mouse by one of the neighbor, and since all of her kittens were male, Bajita dynasty ended in a very short period. Like a powerful king without prince, the dynasty was gone easily !!!

Accidentally, I fed a golden color mother cat whom I call “Pussie 2”. Although she was very undomesticated – meaning that I can never catch it – yet when giving birth time was come, Pussie 2 decided to give birth in my roof. I don’t know why, usually two months later Pussie 2 will bring down her beautiful kittens from the roof to the ground. One of them was a female kitten named Meese [in Java, I call cats by saying which sounds like “Meeeeeeeeese….”, and all of the cats will come to you by that call…]. The rest died of different reasons..

Pussie 2 and Meese were competing each other to deliver as beautiful kitten as they can get, as if to show to another who is the role model mother cat [Now it comes to a very difficult part of the story to tell, since I have purged some of my memory on my family cats].

Shortly speaking, Pussie 2 gave birth of Scuba 2 and Putih. Scuba 2 is just like older Scuba, the two of them were just like clone one another. When the older Scuba died of fighting with much stronger and older male cat, the same thing happen to Scuba 2 who just died recently after a heavy roof fighting with much older and stronger male cat. The difference is, I found the body of Scuba 2 lying on my roof with some badly wounds. Soon I buried him near the Bajita’s tombstone. Putih – a dotty red-and-black-on-white cat – is still alive until today but she rarely come to my house to ask for food, it seems that the neighbor take care of her.

The newest generation of Pussie 2 descendant was Kabut or Cloud in English. I name this red-striped-on-white cat Kabut because it is abbreviation of “Kucing Anak BUTa” [the blind kitten]. Yes, if you have a glance of Kabut, he looks like a healthy kitten. But if you gets closer to him, it is very obvious that his left eye is like having cataract, i.e. there is a white thin layer in front of his cornea. It was happened when three months ago (Kabut is 5 month old kitten when I write this blogs]. At the age of two months, he was brought down by his mother from my roof. When I tried to approach Kabut and his two siblings (both died later), the mother cat was acting very meanly, which is very common behavior for a mother cat. So were the two kittens. There was no chance I – as an amateur veterinary – can approach them and check their well being.

Yet, Kabut is now a very cute male kitten with an obvious stripes in his skin like a TPI logo [TPI = Televisi Pendidikan Indonesia, is one of 12 TV channels in Indonesia].

Now, it comes to the most interesting cat story.  Meese, the female mother cat daughter of Pussie 2 tends to have her own dynasty. Having an affair with Tiger – a 75-cm Angora male cat – she always give births some extraordinary talented kittens. Tiger – a “bule” or “Caucasian” male cat as we use to call it – has a grey stripe color. Meese itself has a “dirty” grey color or “kembang asem” [tamarind flower color]. Consequently, most of her kittens were grey too. And grey seems to be the favorite color for the school kid thief, either for “for fun” motive or “commercial” motive [the latter I am not sure though].

After several thefts, there was a male grey-color cat name Kimi – I named him after Kimi Raikonen, the much praised young Formula 1 driver he himself is my daughter favorite driver. Kimi was very adorable cat. When my wife had to go for an advance military education for two-month long, Kimi stayed with me to guard the house. It was very sad though in memorizing the way Kimi was missing. At one time, a heavy rain fell in my neighborhood which lasted for two hours. I mean it, two heavy rain in two hours !!!. You know what it means ? It means the water was everywhere, it was as deep as my knee. Kimi was out of the house at the time, all of his trail (of pee) were missing, swept by the floor, and consequently he were not be able to track the right direction to my house. I lost him, he must have swept by the flood.  Kimi was Missing in Action [declared MIA without a purple heart medal !]..

The newest generation of Meese kittens were three siblings : Gentong, Lontong, and Bolong. Gentong is a male cat with golden color. At the time of this blogs writing, Gentong is 9-month old.

He is a very very intelligent cat, only second intelligently to Borneo who can do arithmetic addition. Gentong has a very long tail, and he can do floor sweeping and floor moping [too sad, I have to admit that in this time I have no time – and no money – to buy even the simplest digital camera to record all of these interesting cat things]. Usually when I sweep the floor, Gentong will hold the sweeper and move wherever the sweeper is being moved. Similarly when I mop the floor, Gentong will move around following my move. And I am telling you, Gentong can sweep or mop as large as 100 square meters of floor !

Bolong were short-lived. You got it ! He was stolen coz his color is the thief favorite color, that is grey ! He was stolen where he was 4 or 5-month old. Lontong, the female cat sibling of Gentong, has a “dirty” grey [kembang asem] color. She was an exact copy of her mother. The only different is, her eyes are rounder than that of her mother.

I just hope that I can keep all of these cats as long as I can….so you all can still read my weblogs on my Friendster. Weblogs about cats. Boring ? No, it is very rewarding….

THE STORY OF MY FAMILY CATS

When I moved to my current house in East Jakarta in May 1993 - well, to be exact, it's located in the nearest Bekasi village to Jakarta - I started to renew my old hobby, that is caring cats as my family pets.

At first, it was very difficult to decide on how to start. Should I buy an expensive mother cat in an expensive pet shop in an expensive town mall in an expensive neighboorhood here in Jakarta ?

After several thought, I decided just to adopt a "village" cat or you may call it a "stray" cat, although I didn't like the latter term. Why ? It's free, you can just pick a village cat and bring it home, wash 'em, feed 'em, build 'em a nice cat house, and the rest is a lot easier..

Having several "experiments" how to catch a cat without being bitten, it seems that I haven't read enough books in that matter. One day my palm was bitten by a nice, black-and-white (Michael Jackson's) kitten. Yes, in that night I fed two or three village kittens which came to my front yard. While it seems very domesticated, I touched one of the kittens, a hell touch !! The MJ's kitten bite my left palm and it left 4 centimeters open wound on my palm. Oh my God ! I suddenly picked a tissue or cotton to close my wound, and started my Daihatsu Zebra on and rushed to a nearby local hospital. I met a doctor who stitched my wound in 5 stitches ! Arrrrgggghh....(I am not Garfield, though), it hurts like damned hell !!

But I decided to still love cats, specifically kittens. And finally, in one good night here came a mother cat. Her color was golden, her eyes were partially blind - of being left in a house roof when she was born by her mother cat I believe. Soon, I fed her and name her "Pussie".

Three months later, Pussie gave birth of three nice-colored kittens, two of them female and one of them male. We - as family - name them Pingkan (female), Borneo (male), and Bajita (female). Yes, it was abbreviated PBB because it was born the same day as The United Nations Day (UN). UN is indonesianized as Perserikatan Bangsa Bangsa or PBB. Pingkan had three colors : spotted red and black on white, Borneo had two colors : spotted red on white, and Bajita had three colors : stripped red and black on grey. In Java island we call the type of the cat fur color as : Telon (for Pingkan), Totol (for Borneo), and Kembang Asem (for Bajita). A year later Bajita gave birth a lot lot baby cats which all of them were beautiful...

I think this is my first blog on my family cats. The story will be continued....